Cinta Atau Centong
“Misi-misi
…”Serbu seorang cewek yang mulai menyelundup diantara rimbunan manusia berjas
kampus. Tampangnya yang serba awut-awutan enggak kayak perempuan pada umumnya,
plus kalung gambar kuda yang tetep nyantol di lehernya dan nggak pernah lepas,
seperti itu membuat penampilannya cukup komplit.
Tangannya mulai menari-nari diantara
tangan manusia lain dideretan lainnya. Sibuk mencari jejeran namanya disela-sela
nama-nama dalam kertas itu. “Hahh … alhamdullilah.”Histerisnya. “Lulus …”Ucapnya
lirih sambil mengelus-elus dada. Banyak protes yang menghujamnya, membuatnya
ingin buru-buru keluar dari rimbunan rakyat kampus.
Mustahil
jika dipikir-pikir. Cewek seaneh itu bisa masuk fakultas kedokteran. Cewek
berkulit putih bersih dan hiper aktif ini menyembunyikan wajah pintarnya
rapat-rapat dalam hidungnya yang mancung itu. Hehe. Wajahnya sedikit indo-indoan
arab tapi jangan sangka, jujur nggak ada keturunan dari luarnya!
“Elo
mimpi apa sih? otak elo itu loe taruk mana sih ?”Sregap manusia crewet
disampingnya. Satu lagi cewek berkerudung lebih ribet darinya memperhatikan
dirinya tajam dan penuh penasaran. Sebut saja Jojo, “Elo kapan sih belajarnya.
Gue nggak pernah tahu? elo kayaknya santai-santai aja kuliah. Tapi nih nilai lo
tu selalu tinggi, gue heran ?”
“Udah
lah, Jo. Itu rezeki masing-masing. Udah ya, gue laper.”Ditutuplah dialog
singkatnya. Sejurus kemudian langkahnya sudah melewati gerbang kampus.
…
“Buk,
1 piring nasi campur sama …”Dirinya mengerjap-ngerjap mencoba mengamati daftar
menu. “Teh dingin.”Tambahnya. sepiring gorengan yang tersaji membuat perutnya
tak sabar dan meraung-raung. Cowok kalem itu mengunyah pisang gorengnya dengan
pelan, seperti terhitung tiap kunyahannya.
“Buk,
nasi campur biasa. Nasi 3 centong !”Cetus seorang cewek dari belakangnya. Dia
mencoba mengamatinya. ‘3 centong ?’gumamnya. tebakannya dia seorang mahasiswa
seni yang nyasar di rumah makan mini ini.
“Siap
neng …”Sigap ibu warung itu.
Cewek
itu duduk disebelahnya, mengarahkan pandangan kearahnya, cowok kalem itu gelagapan
dan menunduk. “Langganan baru ya ?”Tanyanya menginfestigasi.
“E
… e ? langganan ?”Tanyanya tak mengerti.
“Langganan
warung Mak Ten !”Jelasnya.
“Iya.
“Jawabnya singkat.
“Kenalin,
saya langganan tetap sini. Saya cinta mati sama masakan Mak Ten.”Katanya
melirik Bu Ten yang mulai melayang ubun-ubunnya.
“Hehe.
Kamu mahasiswa seni ya ?”Tanyanya.
“Hihi.
Kenalin, Kia.”Sigapnya menjawab.
“Irfan
…”Responnya ramah.
“Gue
di fakultas kedokteran sini.”Terlihat jelas ekspresi kagetnya.
“Maaf
ya. Aku kira …”
“Nggak
pantes ya ?”Potong Kia. “But, orang-orang juga nggak rela aja aku jadi calon
dokter. But, you know. I like this !”Jawabnya mantab. Lelaki itu berpikir cewek
itu begitu santai, seperti tak ada satupun beban yang nyangkut dibenaknya si
calon dokter itu.
Belum
ada 2 sendok Irfan makan, dia merasa sendokannya terasa tak nikmat. Di liriknya
Kia dengan lahapnya makan dengan tangan, seperti berhari-hari tak makan. Dengan
beberapa lauk komplitnya yang menggunung tanpa canggung dia makan seperti itu,
terasa rumah sendiri.
“Apa
liat-liat.”Seru Kia sambil mengusap keringatnya menegur lelaki satu-satunya
disebelahnya.
“E
… enggak, enggak.”
“O,
pasti kamu heran aku makan kayak begini. Tapi enak lo. Menurut kesehatan makan
kayak begini bagus buat loe. Uduh diteliti pula.”Jelasnya meyakinkan.
“Oh.
Ya ? kalau gitu aku ikut apa kata calon dokter deh.”Katanya antusias.
Acara
makan siang itu pun terasa nikmat dan berkesan bagi Irfan. bersama cewek manis
awut-awutan disebelahnya.
…
Usai
makan, Kia mengantarkan Irfan ke alamat yang dituju. Soalnya dia kasihan, cowok
itu baru pertama kali berpergian. Sekarang dia mencari rumah Pak De-nya mau
dapet kerjaan katannya.
“Emang
loe lulusan apa ?”Tanya Kia saat mereka sudah berada didalam sebuah angkutan
umum.
“E
…”Dia canggung mau menjawabnya. Irfan ingin jatidirinya yang satu ini tidak dia
ceritakan. “E … adalah pokoknya. Berhubungan dengan sains.”
“Hm,
o.”Jawab Kia pendek.
Beberapa
menit kemudian mereka sampai disebuah rumah bertembok silver berpagar hitam.
“Iya,
inikan. Nomor 20 ?”Tanya ke Irfan meyakinkan.
“Eh
iya. Yuk kita coba masuk.”Mereka pun berdua masuk dan dipersilahkan masuk oleh
seorang satpam. Irfan mencoba mengetuk pintu dan keluarlah seorang pembantu
yang menebak namanya ‘Irfan’.
Pembantu
itu langsung masuk dan memanggilkan tuan rumah. Sejurus kemudian dua pasang
lelaki perempuan setengah baya keluar dan menyapa mereka.
“Irfan
! maaf ya sayang. Bu De dan Pak De nggak njemput kamu.”Rasa penyesalan pun
beliau ungkapkan.
“Enggak
papa Bu De, Pak De, untung ada temen saya ini. Kenalkan Kia. Dia yang bantu aku
cari alamat rumah ini.”Kia pun dengan manis menjabat kedua tangan didepannya.
“Kia
? o … bukankah kamu mahasiswaku ya.”Dari tadi sebenarnya Kia sudah merasa,
lelaki setengah baya didepannya itu adalah dosen junjungannya di kampus. Cara
mengajarnya yang asik membuatnya sangat mengidolakan beliaunya.
“Eh,
selamat ya, nilai kamu di semester ini bagus sekali.”Puji dosennya, Pak
Handoko. Kia salah tingkah dan hanya mesam-mesem memainkan kalung kudanya yang
panjang itu. Irfan pun mengamati itu.
“E,
pak dosen bisa saja.”Cetusnya malu-malu.
“Eh
iya cantik ayo masuk, ayo Fan ajak Kia masuk.”Seru Bu Handoko.
“Ayo
Kia.”Ajak Irfan.
“E…
e maaf. Pak Dosen, Bu, Irfan. saya harus
buru-buru pulang ada acara yang tidak bisa ditunda. Maaf.”Mohon Kia kepada
mereka.
Mereka
pun mengucapkan terima kasih kepada Kia, karna telah mengantar Irfan sampai
kerumah. Tapi yang paling menyesal adalah Irfan, dia tidak sempat menanyakan
rumah atau nomor ponselnya.
…
“Ah,
soleh loe …”Protes Nyoman yang tahu makanannya dicomot orang.
“Ah,
dikit do’ang. Pelit loe.”Hujam Kia. “Masuk jam berapa ?”Tanya Kia pada Nyoman
temannya lain kelas.
“Bentar
lagi, …. Jam 9”Jelas Nyoman masih sibuk dengan chitato-nya.
“Kata
anak-anak ada Dosen baru ya ?”Cetus Kia yang dari tadi penasaran. Soalnya dari
ujung gerbang sampai bangku taman yang dia duduki sekarang, para mahasiswa
sibuk dengan topik ‘DOSEN BARU’
“Oh,
maybe. I know, I know. Apa yang tadi naik sedan itu ya ?”Tambah Nyoman, yang
dijelasin cuma sibuk sama hp-nya sendiri. “Hello… elo dengar ?”
“Eh,
Jojo nyari gue nih. Kangen mungkin. Gue cabut dulu ya !!!”Katanya tanpa titik
koma.
“Lah
ni orang. Bener-bener soleh nih.”Umpatnya.
Sejurus
kemudian Kia sampai di dalam kelasnya, mendapati Jojo yang sembap penuh
benjolan mata alias bengkak. “What’s happen ???”Tanyanya.
“Gila
Ki. Gue kemarin ndapetin dompetnya Gara warna pink, dompet sapa coba ? gue
tanya ke dianya katanya dompetnya, masak iya ?”Katanya masih tersedu-sedu.
“Hah
? makin sekong aja dia. Hahaha …”Tawanya, menambah empet sahabatnya itu.
“Eh
kerudung merah. Eh Kia nih ada titipan dari penggemaran aneh loe !”Kata Satrio
dari bangku belakangnya plus pojok.
“Heh
? apa ?”Sejurus kemudian dia mendapati tangannya menggenggam bunga anggrek ungu
dari Satrio. “Anggrek ? siapa Yo orangnya ?”Tanyanya penuh keheranan.
“Fadlan
anak semester 8. Gila elo laku juga ya. Haha …”Candanya.
“Huh,
awas loe, kalo elo suka sama gue, nggak njamin deh. Haha”Candanya balik. Hampir
lupa dengan sahabatnya yang sedang bersedih hati, Kia pun berpaling, “Nih Jo,
obat sakit hati …”Sodornya.
“Ha
… hag hag … jing …”Bersin Jojo. “Eh, elo kan tahu gue nggak suku anggrek
!!!”Hujamnya makin tajam.
“Upps,
lupa. But, I like it. Anggrek indah tahu bok.”Jelasnya menjauhkan anggreknya
dari Jojo.
Beramai-ramai
kemudian para penghuni kelas lainnya masuk. Seorang dosen tinggi bercelana hitam
panjang dengan hem putih masuk dengan jalannya ala model diatas red carpet.
“Pagi
anak-anak.”Tampangnya yang manis membuat perhatian masih tertuju pada wajahnya.
Cuma
Kia yang radak-radak tak asin eh asing maksudnya, dengan wajah itu. Tapi dia
masih mengerjap-ngerjap. “Siapa ya ?”Si Jojo yang tadinya duka sekarang cepat
melesat kesuka melihat bahasa demi bahasa yang terlontar pada setiap ucapatan
dosen itu, begitu juga yang lainnya.
Sebelum
pelajaran, dosen baru itu memperkenalkan dirinya. Sekelibat juga lelaki itu
mengenali siapa wajah bengong diantara mahasiswa didepannya. Dan sekali lagi,
sampai pelajaran usai Kia tak ingat apa yang menggangjal dalam benaknya tentang
dosen baru itu. Perkenalanpun tak mampu membantu memorinya yang melejit kearah
ketuaannya itu. Entah atau sangkin banyak pelajaran yang memasuki memorinya
atau kebanyakan makan brutu kalo kata orang jawa.
…
Usai
kuliah, Kia sibuk mencari-cari buku referensi didalam perpus kampusnya. Hari
itu perpus agak sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang juga sedang mencari
buku atau sekedar membaca dan beberapa glintir dosen dengan kesibukannya
masing-masing.
Tiba-tiba
dia kaget karena seseorang dari belakang menepuk bahunya. Gadis berkerudung
merah itupun berbalik arah, mendapati seseorang lebih tinggi darinya tersenyum
manis menyapanya.
“Apa
kabar ?”Sapa lelaki itu.
“Irfan
…”Sadarnya dalam kebengongan.”Kok sampai sini. Lah, kamarin pakek kaos sekarang
udah pakek kemeja gini nambah satu mili nih. Hehe …”Candanya seperti sudah
sangat akrab.
“Hehe
… kau yang sambong ya. Baru beberapa hari tidak bertemu udah lupa.”Lelaki itu
pun mengambil kaca mata yang dia taroh pada sakunya dan memakainya. Sambil
tersenyum manis seperti Pak dosen barunya.
“Hah
? astagfirullah, PAK DOSEN.”Teriaknya. Buru-buru Irfan membungkam mulut gadis
lucu itu. Sebentar kemudian Kia
menyadari posisinya ada di perpus. Sejurus kemudian Irfan melepas bungkamannya.
“Irfan, sumpah gue nggak ngenali elo tadi. Beda banget. Kacamata loe ini yang
membuat aneh. Haha …”Kia pun mengambil kacamata Irfan dan memainkannya.
“Makan siang yuk. Gue traktir.”Ajak Irfan
meniru gaya Kia.
“Oh,
oh. Let’s go !”Cetusnya menyakinkan.
Kia
pikir dia akan diajak ke restoran dekat kampus atau paling parah kantin kampus.
Lah ini malah ditempat beginian. “Yakin nih disini ?” Katanya memastikan.
“Katanya
cinta mati sama masakan sini. Jadi percuma dong kalau ku ajak kerestoran besar
kalo lidahmu nggak cocok. Haha …”Mereka berduapun tertawa serempak. Tampaknya
mereka berdua menemukan kecocokan.
…
Sekampus
tidak ada yang tahu hubungan mereka yang akrab. Yang mereka tahu hanya sebatas
dosen muda dan mahasiswanya. Hingga sekarang sudah berapa bulan dan berapa kali
mereka makan bersama di warung Bu Ten.
“Kia
…”Teriak banyak orang dari belakang, suara itu pun menghentikan langkahnya menuju
perpus sebelumnya dia ada janji dengan Irfan.
“Selamat
ulangtahun !!!!!”Teriak mereka semua, Jojo, Gara, Nyoman, Fadlan.
Ulangtahun
????
Kia
malah bingung sendiri. masak dia ulangtahun ?? Kia memutar memorinya. “Bulan,
bulan, bulan ??? Oktober ! tanggal, tanggal, tanggal ??? 20 !!”Kasak-kusuknya
dalam hati.
Empat
sekawannya itupun nampak heran dengan tingkah Kia-nya sendiri. “Gila … elo
ultah ekspresinya kok datar-datar aja ???”Protes Gara, pacar Jojo. “O ..
mungkin pengaruh kalung kuda ini nih, yang nggak pernah diganti-ganti
!!!”Komennya lagi, sambil memainkan kalung kuda Kia yang masih menggantung
dileher cewek itu.
“Eh,
eh, apa sih. Berharga tau nggak !!!”Ledek Kia.
“HBD
… ya !!!”Teriak mereka berempat lagi dengan mengucek-ngucek kerudung kuningnya,
menyikut tangannya, menepuk bahunya.
“Makasih
ya. Mangap gue aja belum sadar kalo ini ultah gue. Gila elo-elo semua perhatian
banget sama gue. Haha …”Over-nya mulai. Mengundang tawa haru campur bahagia
semua makhluk diantarannya.
“Oh,
ya Ki … ini buat loe. Loe nggak bosankan dengan ini ???”Serahnya sekantong
anggrek ungu dalam tataan plastik rapi.
“Hm,
makasih ya, Dlan …”Ungkapnya bahagia mendapatkan bunga faforitnya itu.
…
“Mbak
nggak ada yang tataan beberapa tangkai gitu ???”Tanyanya pada mbak pelayan
toko.
“Maaf
mas, lagi kosong. Kalo memang ada, ini sisa kemarin cuma satu tangkai, yang
lainnya habis !”
“Hm
… ya udah ini aja.”Ungkapnya pasrah. Dia masukkan bunga setangkai itu dalam
tasnya.
Dengan
senyum yang mengembang, Irfan merasa langkah kakinya begitu ringan dan
bersahabat. Dengan beberapa kejutan untuk Kia, dia mengarahkan kakinya ke
perpus. Dengan anggrek digenggaman.
Tetapi
betapa kagetnya dia melihat seseorang dihadapan matannya. 2 orang lawan jenis
sedang bercengkrama dengan manisnya dan bunga anggrek ditangan. Matanya
mengerjap-ngerjap tak percaya. “Kia …”Sedunya. Tinggal 5 langkah lagi dia
sampai ke perpus, tempat janjiannya, tapi tiba-tiba rasa itu hambar.
Kia
resah bukan main. Didepannya, Fadlan masih asiknya mengajaknya ngobrol, terasa
tak enak bila tiba-tiba dia memutus obrolan itu dan melenggang ke perpus
disampingnya. “Apakabar Irfan ya ?”
Secara
natural anggrek pada genggaman Irfan jatuh beberapa helai meliputi juga
perasaannya yang campur aduk.
…
Sudah
beberapa bulan Kia tidak pernah ngobrol dengan Irfan sekaligus dosennya. Hanya
saat jam-jam kuliah saja ia dapat melihatnya melainkan dia merasa tak
dilihatnya. Di warung Mak Ten pun tak muncul juga badang hidungnya, yang paling
memilukan adalah dia tidak ingat ulangtahunya yang lalu. Dia hanya bisa
berpositif thingking, mungkin dia sibuk.
Di
kursi faforitnya di marung Mak Ten lah dia dapat meleluasakan pikirannya.
“Neng, nggak pernah bareng-bareng sama den ganteng lagi ? putus ya ?”Sapa Mak
Ten menyadarkannya.“Kemarin aden kesini sendiri, ditanya juga sama, diem
aja.”Tambahnya.
“Jadi
Irfan juga masih sering kesini ? jam berapaan Mak ?”Tanyanya penasaran.
“Datengnya
biasannya 10 atau 20 menitan setelah eneng.”Cetusnya sambil mengaduk-ngaduk
sambal kacangnya.
“Beneran
Mak ? kayaknya ada yang aneh.”Kia pun memutar otak. ‘Bagaimana bisa setiap
setelah aku dari sini dia datang ? pasti ada yang disengaja.’ Buru-buru dia
mengemasi barang-barangnya dan melenggang pamitan pergi kepada Mak Ten.
Benar
tak berapa lama kemudian Irfan datang. Mak Ten sendiri bingung dengan kedua
anak muda itu. “Mak biasa ya nasi campur 3 centong.”pesannya. Tapi betapa
terkejutnya Irfan, sesosok dengan senyum mengembang menepuk bahunya dan
berkata.
“Dasar
centong. Kemana saja sih ?”Sapa Kia pengen buru-buru menghujamnya.
Irfan
pun salting, “E, Mak pending dulu ya.”Sekelebit wajah itu hilang dari hadapan
Kia.
Kia
pun terdiam kaku mendapati hal itu, begitu juga Mak Ten. “Neng, neng…”Sentak Mak
Ten.
Kia
langsung pergi menyusul Irfan. Irfan terus dengan langkahnya, sampailah dia
disebuh taman hijau yang lumayan sepi. Disitu dia melipat kakinya dan
menyandarkan kepalannya pada sebuah pohon. Perasaan makin tidak karuan. Hanya
dipenuhi oleh wanita berkerudung itu.
Entah
mengapa Kia menangis melihat Irfan, ia merasa ada yang salah pada dirinya yang
dia pun tak tahu. Didekatinya Irfan tanpa menyentuhnya. “Aku begitu menjijikan
ya bagimu ?”Katanya tersedu. Irfan pun kaget mendapati Kia yang berhasil
menyusulnya. “Pak dosen marah ? apa salahku ? gue tahu, gue emang cewek aneh
yang seperti ini, tapi bukankah elo juga udah tahu dari dulu. Lalu apa yang
salah ?”
Irfan
merasa tak tega mendengar hujaman gadis cantik itu. Menatapnyapun tak sanggup.
“Heh, nggak ada yang salah. Mungkin memang elo gadis cantik yang aneh. Sangking
anehnya elo pacaranpun juga aneh. Haha …”Jelasnya sedikit ketus.
Kia
mengangah mendengarnya. Merasa salah paham sedang membelitnya. “Gue punya pacar
? elo tahu sendirikan gue nggak pernah sembarangan milih cowok. Apalah arti pacaran,
lagian gue bakal serius sama orang yang juga gue ngerasa nyaman
denganya.”Amarahnya.
“Fadlan.
Dia tampan, tinggi, dan sweet. Lo nyaman ?”Seniknya.
“Enggak.
Gue enggak pernah ngerasa nyaman denganya. Gue risih denganya…”Kia pun menarik
napas, “Ada apa kau bertanya dengan Fadlan ?”
“Aku
rasa kau sangat dekat dengannya. Saat ulangtahun loe dikasih anggrek
faforitmukan. Bukan-kah itu romantis.”Sindirnya lagi.
“Oke.
Dan dimana elo saat itu. Gue butuh elo untuk nylametin gue dari situasi itu.
Eh, tapi gue pikir elo enggak inget ultah gue. Atau itu hanya jadi alasan elo
menghindar ?”
Irfan
pun memotong, “Gue suka sama elo !”Spontan ia katakan. Dia sendiri tak sadar
mengungkapkannya. Bagian tubuhnya serasa lemas satu-persatu saat mengatakannya.
Yang
dihadapannya pun tak kalah terkejutnya. Pertanyaan dan keraguan dalam angannya
tentang perasaanya sendiri, seperti terjawab.
“Pak…
Do… sen …?”Ucapnya terbata-batah.
Irfan
mulai menjarah isi tasnya. Dan mengeluarkan anggrek yang layu tak berkelopak
dengan kelopak-kelopak yang ada diplastik bening yang mulai kering itu. Ia
taruh semua itu disamping gadis didepannya yang masih berdiri kaku.
“Aku
mungkin tak tahu apa itu perasaan tapi elo sudah mengubahnya. Dan ini
buktinya…”Tunjuknya dengan sorotan mata mengarah ke anggrek tersebut.
Perlahan
langkah Irfan meninggalkan Kia. Dia memberi celah untuk gadis itu memikirkan
kenyataan itu. Dalam hati, Irfan terus berdebat “Mungkinkah Kia marah dan
membencinya. Lalu dia tak mau bertemu denganku lagi, tak pernah bercanda
denganku lagi, tak seakrab dulu, dan meninggalkanku karena jijik mendengar
ucapakku tadi ?”Debatnya semakin serius.
…
Tak
terasa, langkah kakinya sudah kembali menapak di rumah makan kecil milik Mak
Ten. Mak Ten yang tadinya bingung, masih mengerjap-ngerjap anak muda didepannya
itu. Disodorkannya pesanan lelaki itu yang dipendingnya tadi.
“Makasih,
Mak …”Jawabnya lesu. Nasi saja seperti empet melihatnya memakan dengan lambat
dan tak bergairah. Sendoknyapun terasa berat digenggamannya.
“Ah
laper nih … Mak biasa. 3 centong. !”Cetus suara cempreng dibelakannya.
Jantungnya pun berdeguk dan terasa mati sesaat. Dia dapat mengenal suara itu.
Dan diapun menoleh.
“Kia
…?”Serunya. yang dipandangi hanya tersenyum dan duduk disebelahnya.
“Perasaan
itu seperti air. Yang kalo diisi seperti ini …”Jelasnya mengambil dan
menuangkan air putih dari ceret ke gelas. “Dia akan terisi penuh. Dan dengan
terbiasa, dia akan menyesuaikan dengan tempatnya, tanpa celah !”Jelasnya lembut
dan mantap.
Irfan
pun tersenyum mendengarnya. Gerak tubuh diantaranya, saling mengerti maksud
dari masing-masing. Irfan pun buru-buru mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah
benda yang tidak pernah dibayangkan Kia akan dikeluarkan lelaki tinggi itu.
“Dan
cinta itu seperti centong …”Tunjuknya memperlihatkan centong berwarna ungu itu.
“Tanpa ini, piring tak akan terisi penuh. Begitu juga piring yang sudah
terbiasa menerima nasi dan segala macam diatasnya.”
Keduanya
pun tersenyum dan tertawa dengan ucapannya masing-masing. Diserahkannya centong
itu kepada Kia, “Mungkin ini tidak mahal, tapi aku tak tahu yang kamu suka.
Semoga centong ini bermanfaat. Hehe …”Serahnya dengan muka serius tetapi
bercanda.
“Oke
… aku terima centong ini. Dengan perasaan yang kau berikan untukku.”Kia
mengucapkan-nya dengan tersenyum. “Pak… Dosen!”Cetusnya terakhir.
Pesanan
Kiapun datang. “Buk tambah satu centong lagi …”Ucapnya.
“Aku
juga !”Serbu Irfan. Irfan pun menaruh sendoknya, dan makan bersama orang yang
tak sadar ia cintai selama ini dengan tangan berbahur dengan segala macam
sajian dipiringnya. Dengan lahap. Dengan penuh kebahagiaan. Nasinya terasa
sepageti dilidahnya. Hanya Mak Ten yang masih bingung dengan kedua pelanggan
tetapnya itu.
The End
Biodata
Hii, my name is
Nila. Maybe, aneh ya namaku … !!! tapi nggak seaneh nama panjangku, “NILA
FIRDAUSI NUZULAH “. Tinggal di TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR. Sekarang umur masih 15
tahun. Kelas 9 SMP, dan SMP di SMP 3 TULUNGAGUNG. Oh ya, story ini pertama aku
mengirim cerpenku lho, dan saya berdo’a semoga story berkenan menerbitkannya.
Maybe panjang tapi insya’allah asik kok. Hmm, bisa hubungin aku di nomor
085784792174. Salam buat story magazine …!!!!!