Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

Kamis, 06 Februari 2014

Cinta Atau Centong



Cinta Atau Centong
“Misi-misi …”Serbu seorang cewek yang mulai menyelundup diantara rimbunan manusia berjas kampus. Tampangnya yang serba awut-awutan enggak kayak perempuan pada umumnya, plus kalung gambar kuda yang tetep nyantol di lehernya dan nggak pernah lepas, seperti itu membuat penampilannya cukup komplit.
            Tangannya mulai menari-nari diantara tangan manusia lain dideretan lainnya. Sibuk mencari jejeran namanya disela-sela nama-nama dalam kertas itu. “Hahh … alhamdullilah.”Histerisnya. “Lulus …”Ucapnya lirih sambil mengelus-elus dada. Banyak protes yang menghujamnya, membuatnya ingin buru-buru keluar dari rimbunan rakyat kampus.
Mustahil jika dipikir-pikir. Cewek seaneh itu bisa masuk fakultas kedokteran. Cewek berkulit putih bersih dan hiper aktif ini menyembunyikan wajah pintarnya rapat-rapat dalam hidungnya yang mancung itu. Hehe. Wajahnya sedikit indo-indoan arab tapi jangan sangka, jujur nggak ada keturunan dari luarnya!
“Elo mimpi apa sih? otak elo itu loe taruk mana sih ?”Sregap manusia crewet disampingnya. Satu lagi cewek berkerudung lebih ribet darinya memperhatikan dirinya tajam dan penuh penasaran. Sebut saja Jojo, “Elo kapan sih belajarnya. Gue nggak pernah tahu? elo kayaknya santai-santai aja kuliah. Tapi nih nilai lo tu selalu tinggi, gue heran ?”
“Udah lah, Jo. Itu rezeki masing-masing. Udah ya, gue laper.”Ditutuplah dialog singkatnya. Sejurus kemudian langkahnya sudah melewati gerbang kampus.
“Buk, 1 piring nasi campur sama …”Dirinya mengerjap-ngerjap mencoba mengamati daftar menu. “Teh dingin.”Tambahnya. sepiring gorengan yang tersaji membuat perutnya tak sabar dan meraung-raung. Cowok kalem itu mengunyah pisang gorengnya dengan pelan, seperti terhitung tiap kunyahannya.
“Buk, nasi campur biasa. Nasi 3 centong !”Cetus seorang cewek dari belakangnya. Dia mencoba mengamatinya. ‘3 centong ?’gumamnya. tebakannya dia seorang mahasiswa seni yang nyasar di rumah makan mini ini.
“Siap neng …”Sigap ibu warung itu.
Cewek itu duduk disebelahnya, mengarahkan pandangan kearahnya, cowok kalem itu gelagapan dan menunduk. “Langganan baru ya ?”Tanyanya menginfestigasi.
“E … e ? langganan ?”Tanyanya tak mengerti.
“Langganan warung Mak Ten !”Jelasnya.
“Iya. “Jawabnya singkat.
“Kenalin, saya langganan tetap sini. Saya cinta mati sama masakan Mak Ten.”Katanya melirik Bu Ten yang mulai melayang ubun-ubunnya.
“Hehe. Kamu mahasiswa seni ya ?”Tanyanya.
“Hihi. Kenalin, Kia.”Sigapnya menjawab.
“Irfan …”Responnya ramah.
“Gue di fakultas kedokteran sini.”Terlihat jelas ekspresi kagetnya.
“Maaf ya. Aku kira …”
“Nggak pantes ya ?”Potong Kia. “But, orang-orang juga nggak rela aja aku jadi calon dokter. But, you know. I like this !”Jawabnya mantab. Lelaki itu berpikir cewek itu begitu santai, seperti tak ada satupun beban yang nyangkut dibenaknya si calon dokter itu.
Belum ada 2 sendok Irfan makan, dia merasa sendokannya terasa tak nikmat. Di liriknya Kia dengan lahapnya makan dengan tangan, seperti berhari-hari tak makan. Dengan beberapa lauk komplitnya yang menggunung tanpa canggung dia makan seperti itu, terasa rumah sendiri.
“Apa liat-liat.”Seru Kia sambil mengusap keringatnya menegur lelaki satu-satunya disebelahnya.
“E … enggak, enggak.”
“O, pasti kamu heran aku makan kayak begini. Tapi enak lo. Menurut kesehatan makan kayak begini bagus buat loe. Uduh diteliti pula.”Jelasnya meyakinkan.
“Oh. Ya ? kalau gitu aku ikut apa kata calon dokter deh.”Katanya antusias.
Acara makan siang itu pun terasa nikmat dan berkesan bagi Irfan. bersama cewek manis awut-awutan disebelahnya.
Usai makan, Kia mengantarkan Irfan ke alamat yang dituju. Soalnya dia kasihan, cowok itu baru pertama kali berpergian. Sekarang dia mencari rumah Pak De-nya mau dapet kerjaan katannya.
“Emang loe lulusan apa ?”Tanya Kia saat mereka sudah berada didalam sebuah angkutan umum.
“E …”Dia canggung mau menjawabnya. Irfan ingin jatidirinya yang satu ini tidak dia ceritakan. “E … adalah pokoknya. Berhubungan dengan sains.”
“Hm, o.”Jawab Kia pendek.
Beberapa menit kemudian mereka sampai disebuah rumah bertembok silver berpagar hitam.
“Iya, inikan. Nomor 20 ?”Tanya ke Irfan meyakinkan.
“Eh iya. Yuk kita coba masuk.”Mereka pun berdua masuk dan dipersilahkan masuk oleh seorang satpam. Irfan mencoba mengetuk pintu dan keluarlah seorang pembantu yang menebak namanya ‘Irfan’.
Pembantu itu langsung masuk dan memanggilkan tuan rumah. Sejurus kemudian dua pasang lelaki perempuan setengah baya keluar dan menyapa mereka.
“Irfan ! maaf ya sayang. Bu De dan Pak De nggak njemput kamu.”Rasa penyesalan pun beliau ungkapkan.
“Enggak papa Bu De, Pak De, untung ada temen saya ini. Kenalkan Kia. Dia yang bantu aku cari alamat rumah ini.”Kia pun dengan manis menjabat kedua tangan didepannya.
“Kia ? o … bukankah kamu mahasiswaku ya.”Dari tadi sebenarnya Kia sudah merasa, lelaki setengah baya didepannya itu adalah dosen junjungannya di kampus. Cara mengajarnya yang asik membuatnya sangat mengidolakan beliaunya.
“Eh, selamat ya, nilai kamu di semester ini bagus sekali.”Puji dosennya, Pak Handoko. Kia salah tingkah dan hanya mesam-mesem memainkan kalung kudanya yang panjang itu. Irfan pun mengamati itu.
“E, pak dosen bisa saja.”Cetusnya malu-malu.
“Eh iya cantik ayo masuk, ayo Fan ajak Kia masuk.”Seru Bu Handoko.
“Ayo Kia.”Ajak Irfan.
“E… e  maaf. Pak Dosen, Bu, Irfan. saya harus buru-buru pulang ada acara yang tidak bisa ditunda. Maaf.”Mohon Kia kepada mereka.
Mereka pun mengucapkan terima kasih kepada Kia, karna telah mengantar Irfan sampai kerumah. Tapi yang paling menyesal adalah Irfan, dia tidak sempat menanyakan rumah atau nomor ponselnya.
“Ah, soleh loe …”Protes Nyoman yang tahu makanannya dicomot orang.
“Ah, dikit do’ang. Pelit loe.”Hujam Kia. “Masuk jam berapa ?”Tanya Kia pada Nyoman temannya lain kelas.
“Bentar lagi, …. Jam 9”Jelas Nyoman masih sibuk dengan chitato-nya.
“Kata anak-anak ada Dosen baru ya ?”Cetus Kia yang dari tadi penasaran. Soalnya dari ujung gerbang sampai bangku taman yang dia duduki sekarang, para mahasiswa sibuk dengan topik ‘DOSEN BARU’
“Oh, maybe. I know, I know. Apa yang tadi naik sedan itu ya ?”Tambah Nyoman, yang dijelasin cuma sibuk sama hp-nya sendiri. “Hello… elo dengar ?”
“Eh, Jojo nyari gue nih. Kangen mungkin. Gue cabut dulu ya !!!”Katanya tanpa titik koma.
“Lah ni orang. Bener-bener soleh nih.”Umpatnya.
Sejurus kemudian Kia sampai di dalam kelasnya, mendapati Jojo yang sembap penuh benjolan mata alias bengkak. “What’s happen ???”Tanyanya.
“Gila Ki. Gue kemarin ndapetin dompetnya Gara warna pink, dompet sapa coba ? gue tanya ke dianya katanya dompetnya, masak iya ?”Katanya masih tersedu-sedu.
“Hah ? makin sekong aja dia. Hahaha …”Tawanya, menambah empet sahabatnya itu.
“Eh kerudung merah. Eh Kia nih ada titipan dari penggemaran aneh loe !”Kata Satrio dari bangku belakangnya plus pojok.
“Heh ? apa ?”Sejurus kemudian dia mendapati tangannya menggenggam bunga anggrek ungu dari Satrio. “Anggrek ? siapa Yo orangnya ?”Tanyanya penuh keheranan.
“Fadlan anak semester 8. Gila elo laku juga ya. Haha …”Candanya.
“Huh, awas loe, kalo elo suka sama gue, nggak njamin deh. Haha”Candanya balik. Hampir lupa dengan sahabatnya yang sedang bersedih hati, Kia pun berpaling, “Nih Jo, obat sakit hati …”Sodornya.
“Ha … hag hag … jing …”Bersin Jojo. “Eh, elo kan tahu gue nggak suku anggrek !!!”Hujamnya makin tajam.
“Upps, lupa. But, I like it. Anggrek indah tahu bok.”Jelasnya menjauhkan anggreknya dari Jojo.
Beramai-ramai kemudian para penghuni kelas lainnya masuk. Seorang dosen tinggi bercelana hitam panjang dengan hem putih masuk dengan jalannya ala model diatas red carpet.
“Pagi anak-anak.”Tampangnya yang manis membuat perhatian masih tertuju pada wajahnya.
Cuma Kia yang radak-radak tak asin eh asing maksudnya, dengan wajah itu. Tapi dia masih mengerjap-ngerjap. “Siapa ya ?”Si Jojo yang tadinya duka sekarang cepat melesat kesuka melihat bahasa demi bahasa yang terlontar pada setiap ucapatan dosen itu, begitu juga yang lainnya.
Sebelum pelajaran, dosen baru itu memperkenalkan dirinya. Sekelibat juga lelaki itu mengenali siapa wajah bengong diantara mahasiswa didepannya. Dan sekali lagi, sampai pelajaran usai Kia tak ingat apa yang menggangjal dalam benaknya tentang dosen baru itu. Perkenalanpun tak mampu membantu memorinya yang melejit kearah ketuaannya itu. Entah atau sangkin banyak pelajaran yang memasuki memorinya atau kebanyakan makan brutu kalo kata orang jawa.
Usai kuliah, Kia sibuk mencari-cari buku referensi didalam perpus kampusnya. Hari itu perpus agak sepi. Hanya ada beberapa mahasiswa yang juga sedang mencari buku atau sekedar membaca dan beberapa glintir dosen dengan kesibukannya masing-masing.
Tiba-tiba dia kaget karena seseorang dari belakang menepuk bahunya. Gadis berkerudung merah itupun berbalik arah, mendapati seseorang lebih tinggi darinya tersenyum manis menyapanya.
“Apa kabar ?”Sapa lelaki itu.
“Irfan …”Sadarnya dalam kebengongan.”Kok sampai sini. Lah, kamarin pakek kaos sekarang udah pakek kemeja gini nambah satu mili nih. Hehe …”Candanya seperti sudah sangat akrab.
“Hehe … kau yang sambong ya. Baru beberapa hari tidak bertemu udah lupa.”Lelaki itu pun mengambil kaca mata yang dia taroh pada sakunya dan memakainya. Sambil tersenyum manis seperti Pak dosen barunya.
“Hah ? astagfirullah, PAK DOSEN.”Teriaknya. Buru-buru Irfan membungkam mulut gadis lucu itu.  Sebentar kemudian Kia menyadari posisinya ada di perpus. Sejurus kemudian Irfan melepas bungkamannya. “Irfan, sumpah gue nggak ngenali elo tadi. Beda banget. Kacamata loe ini yang membuat aneh. Haha …”Kia pun mengambil kacamata Irfan dan memainkannya.
 “Makan siang yuk. Gue traktir.”Ajak Irfan meniru gaya Kia.
“Oh, oh. Let’s go !”Cetusnya menyakinkan.
Kia pikir dia akan diajak ke restoran dekat kampus atau paling parah kantin kampus. Lah ini malah ditempat beginian. “Yakin nih disini ?” Katanya memastikan.
“Katanya cinta mati sama masakan sini. Jadi percuma dong kalau ku ajak kerestoran besar kalo lidahmu nggak cocok. Haha …”Mereka berduapun tertawa serempak. Tampaknya mereka berdua menemukan kecocokan.
Sekampus tidak ada yang tahu hubungan mereka yang akrab. Yang mereka tahu hanya sebatas dosen muda dan mahasiswanya. Hingga sekarang sudah berapa bulan dan berapa kali mereka makan bersama di warung Bu Ten.
“Kia …”Teriak banyak orang dari belakang, suara itu pun menghentikan langkahnya menuju perpus sebelumnya dia ada janji dengan Irfan.
“Selamat ulangtahun !!!!!”Teriak mereka semua, Jojo, Gara, Nyoman, Fadlan.
Ulangtahun ????
Kia malah bingung sendiri. masak dia ulangtahun ?? Kia memutar memorinya. “Bulan, bulan, bulan ??? Oktober ! tanggal, tanggal, tanggal ??? 20 !!”Kasak-kusuknya dalam hati.
Empat sekawannya itupun nampak heran dengan tingkah Kia-nya sendiri. “Gila … elo ultah ekspresinya kok datar-datar aja ???”Protes Gara, pacar Jojo. “O .. mungkin pengaruh kalung kuda ini nih, yang nggak pernah diganti-ganti !!!”Komennya lagi, sambil memainkan kalung kuda Kia yang masih menggantung dileher cewek itu.
“Eh, eh, apa sih. Berharga tau nggak !!!”Ledek Kia.
“HBD … ya !!!”Teriak mereka berempat lagi dengan mengucek-ngucek kerudung kuningnya, menyikut tangannya, menepuk bahunya.
“Makasih ya. Mangap gue aja belum sadar kalo ini ultah gue. Gila elo-elo semua perhatian banget sama gue. Haha …”Over-nya mulai. Mengundang tawa haru campur bahagia semua makhluk diantarannya.
“Oh, ya Ki … ini buat loe. Loe nggak bosankan dengan ini ???”Serahnya sekantong anggrek ungu dalam tataan plastik rapi.
“Hm, makasih ya, Dlan …”Ungkapnya bahagia mendapatkan bunga faforitnya itu.
“Mbak nggak ada yang tataan beberapa tangkai gitu ???”Tanyanya pada mbak pelayan toko.
“Maaf mas, lagi kosong. Kalo memang ada, ini sisa kemarin cuma satu tangkai, yang lainnya habis !”
“Hm … ya udah ini aja.”Ungkapnya pasrah. Dia masukkan bunga setangkai itu dalam tasnya.
Dengan senyum yang mengembang, Irfan merasa langkah kakinya begitu ringan dan bersahabat. Dengan beberapa kejutan untuk Kia, dia mengarahkan kakinya ke perpus. Dengan anggrek digenggaman.
Tetapi betapa kagetnya dia melihat seseorang dihadapan matannya. 2 orang lawan jenis sedang bercengkrama dengan manisnya dan bunga anggrek ditangan. Matanya mengerjap-ngerjap tak percaya. “Kia …”Sedunya. Tinggal 5 langkah lagi dia sampai ke perpus, tempat janjiannya, tapi tiba-tiba rasa itu hambar.
Kia resah bukan main. Didepannya, Fadlan masih asiknya mengajaknya ngobrol, terasa tak enak bila tiba-tiba dia memutus obrolan itu dan melenggang ke perpus disampingnya. “Apakabar Irfan ya ?”
Secara natural anggrek pada genggaman Irfan jatuh beberapa helai meliputi juga perasaannya yang campur aduk.
Sudah beberapa bulan Kia tidak pernah ngobrol dengan Irfan sekaligus dosennya. Hanya saat jam-jam kuliah saja ia dapat melihatnya melainkan dia merasa tak dilihatnya. Di warung Mak Ten pun tak muncul juga badang hidungnya, yang paling memilukan adalah dia tidak ingat ulangtahunya yang lalu. Dia hanya bisa berpositif thingking, mungkin dia sibuk.
Di kursi faforitnya di marung Mak Ten lah dia dapat meleluasakan pikirannya. “Neng, nggak pernah bareng-bareng sama den ganteng lagi ? putus ya ?”Sapa Mak Ten menyadarkannya.“Kemarin aden kesini sendiri, ditanya juga sama, diem aja.”Tambahnya.
“Jadi Irfan juga masih sering kesini ? jam berapaan Mak ?”Tanyanya penasaran.
“Datengnya biasannya 10 atau 20 menitan setelah eneng.”Cetusnya sambil mengaduk-ngaduk sambal kacangnya.
“Beneran Mak ? kayaknya ada yang aneh.”Kia pun memutar otak. ‘Bagaimana bisa setiap setelah aku dari sini dia datang ? pasti ada yang disengaja.’ Buru-buru dia mengemasi barang-barangnya dan melenggang pamitan pergi kepada Mak Ten.
Benar tak berapa lama kemudian Irfan datang. Mak Ten sendiri bingung dengan kedua anak muda itu. “Mak biasa ya nasi campur 3 centong.”pesannya. Tapi betapa terkejutnya Irfan, sesosok dengan senyum mengembang menepuk bahunya dan berkata.
“Dasar centong. Kemana saja sih ?”Sapa Kia pengen buru-buru menghujamnya.
Irfan pun salting, “E, Mak pending dulu ya.”Sekelebit wajah itu hilang dari hadapan Kia.
Kia pun terdiam kaku mendapati hal itu, begitu juga Mak Ten. “Neng, neng…”Sentak Mak Ten.
Kia langsung pergi menyusul Irfan. Irfan terus dengan langkahnya, sampailah dia disebuh taman hijau yang lumayan sepi. Disitu dia melipat kakinya dan menyandarkan kepalannya pada sebuah pohon. Perasaan makin tidak karuan. Hanya dipenuhi oleh wanita berkerudung itu.
Entah mengapa Kia menangis melihat Irfan, ia merasa ada yang salah pada dirinya yang dia pun tak tahu. Didekatinya Irfan tanpa menyentuhnya. “Aku begitu menjijikan ya bagimu ?”Katanya tersedu. Irfan pun kaget mendapati Kia yang berhasil menyusulnya. “Pak dosen marah ? apa salahku ? gue tahu, gue emang cewek aneh yang seperti ini, tapi bukankah elo juga udah tahu dari dulu. Lalu apa yang salah ?”
Irfan merasa tak tega mendengar hujaman gadis cantik itu. Menatapnyapun tak sanggup. “Heh, nggak ada yang salah. Mungkin memang elo gadis cantik yang aneh. Sangking anehnya elo pacaranpun juga aneh. Haha …”Jelasnya sedikit ketus.
Kia mengangah mendengarnya. Merasa salah paham sedang membelitnya. “Gue punya pacar ? elo tahu sendirikan gue nggak pernah sembarangan milih cowok. Apalah arti pacaran, lagian gue bakal serius sama orang yang juga gue ngerasa nyaman denganya.”Amarahnya.
“Fadlan. Dia tampan, tinggi, dan sweet. Lo nyaman ?”Seniknya.
“Enggak. Gue enggak pernah ngerasa nyaman denganya. Gue risih denganya…”Kia pun menarik napas, “Ada apa kau bertanya dengan Fadlan ?”
“Aku rasa kau sangat dekat dengannya. Saat ulangtahun loe dikasih anggrek faforitmukan. Bukan-kah itu romantis.”Sindirnya lagi.
“Oke. Dan dimana elo saat itu. Gue butuh elo untuk nylametin gue dari situasi itu. Eh, tapi gue pikir elo enggak inget ultah gue. Atau itu hanya jadi alasan elo menghindar ?”
Irfan pun memotong, “Gue suka sama elo !”Spontan ia katakan. Dia sendiri tak sadar mengungkapkannya. Bagian tubuhnya serasa lemas satu-persatu saat mengatakannya.
Yang dihadapannya pun tak kalah terkejutnya. Pertanyaan dan keraguan dalam angannya tentang perasaanya sendiri, seperti terjawab.
“Pak… Do… sen …?”Ucapnya terbata-batah.
Irfan mulai menjarah isi tasnya. Dan mengeluarkan anggrek yang layu tak berkelopak dengan kelopak-kelopak yang ada diplastik bening yang mulai kering itu. Ia taruh semua itu disamping gadis didepannya yang masih berdiri kaku.
“Aku mungkin tak tahu apa itu perasaan tapi elo sudah mengubahnya. Dan ini buktinya…”Tunjuknya dengan sorotan mata mengarah ke anggrek tersebut.
Perlahan langkah Irfan meninggalkan Kia. Dia memberi celah untuk gadis itu memikirkan kenyataan itu. Dalam hati, Irfan terus berdebat “Mungkinkah Kia marah dan membencinya. Lalu dia tak mau bertemu denganku lagi, tak pernah bercanda denganku lagi, tak seakrab dulu, dan meninggalkanku karena jijik mendengar ucapakku tadi ?”Debatnya semakin serius.
Tak terasa, langkah kakinya sudah kembali menapak di rumah makan kecil milik Mak Ten. Mak Ten yang tadinya bingung, masih mengerjap-ngerjap anak muda didepannya itu. Disodorkannya pesanan lelaki itu yang dipendingnya tadi.
“Makasih, Mak …”Jawabnya lesu. Nasi saja seperti empet melihatnya memakan dengan lambat dan tak bergairah. Sendoknyapun terasa berat digenggamannya.
“Ah laper nih … Mak biasa. 3 centong. !”Cetus suara cempreng dibelakannya. Jantungnya pun berdeguk dan terasa mati sesaat. Dia dapat mengenal suara itu. Dan diapun menoleh.
“Kia …?”Serunya. yang dipandangi hanya tersenyum dan duduk disebelahnya.
“Perasaan itu seperti air. Yang kalo diisi seperti ini …”Jelasnya mengambil dan menuangkan air putih dari ceret ke gelas. “Dia akan terisi penuh. Dan dengan terbiasa, dia akan menyesuaikan dengan tempatnya, tanpa celah !”Jelasnya lembut dan mantap.
Irfan pun tersenyum mendengarnya. Gerak tubuh diantaranya, saling mengerti maksud dari masing-masing. Irfan pun buru-buru mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah benda yang tidak pernah dibayangkan Kia akan dikeluarkan lelaki tinggi itu.
“Dan cinta itu seperti centong …”Tunjuknya memperlihatkan centong berwarna ungu itu. “Tanpa ini, piring tak akan terisi penuh. Begitu juga piring yang sudah terbiasa menerima nasi dan segala macam diatasnya.”
Keduanya pun tersenyum dan tertawa dengan ucapannya masing-masing. Diserahkannya centong itu kepada Kia, “Mungkin ini tidak mahal, tapi aku tak tahu yang kamu suka. Semoga centong ini bermanfaat. Hehe …”Serahnya dengan muka serius tetapi bercanda.
“Oke … aku terima centong ini. Dengan perasaan yang kau berikan untukku.”Kia mengucapkan-nya dengan tersenyum. “Pak… Dosen!”Cetusnya terakhir.
Pesanan Kiapun datang. “Buk tambah satu centong lagi …”Ucapnya.
“Aku juga !”Serbu Irfan. Irfan pun menaruh sendoknya, dan makan bersama orang yang tak sadar ia cintai selama ini dengan tangan berbahur dengan segala macam sajian dipiringnya. Dengan lahap. Dengan penuh kebahagiaan. Nasinya terasa sepageti dilidahnya. Hanya Mak Ten yang masih bingung dengan kedua pelanggan tetapnya itu.
The End


Biodata
Hii, my name is Nila. Maybe, aneh ya namaku … !!! tapi nggak seaneh nama panjangku, “NILA FIRDAUSI NUZULAH “. Tinggal di TULUNGAGUNG, JAWA TIMUR. Sekarang umur masih 15 tahun. Kelas 9 SMP, dan SMP di SMP 3 TULUNGAGUNG. Oh ya, story ini pertama aku mengirim cerpenku lho, dan saya berdo’a semoga story berkenan menerbitkannya. Maybe panjang tapi insya’allah asik kok. Hmm, bisa hubungin aku di nomor 085784792174. Salam buat story magazine …!!!!!

Dominasi Bangsa Ada Di Pemuda



Dominasi Bangsa Ada Di Pemuda
Nyali ini masih dangkal,
Hanya lulus pendidikan dan kemudian acuh
Tanpa memikirkan beban yang maya dilihatnya
Banyak orang membutuhkannya
Tapi dia,
Hanya terlena dunia kelam saja
Narkoba, milky, zina dan lain sebagainya
Menjadi sahabat karibnya,
Kerap sekali bersahabat dengan kebodohan zaman
Yang semakin mundur tiap persen waktu ...
Pemimpin negeri semakin tua, lantas pemudanya semakin bejat
Mana yang salah,
Takdirkah ???
Dilain tempat...
Banyak pemuda yang antusias hidupnya
Berusaha dalam kebajikan dan mengistikhomahkan ke masyarakat
Itu bukti tidak semua pemuda baru tak begitu
Agendanya adalah untuk menyadarkan kawannya diluar sana
Menyadarkan, “Hai sobat, banyak menantimu. Ini sia-sia. Ayo tinggalkan!”
Kadang teplakan tangan, ucapan serapah menghujamnya
Tekatnya tak kendor hanya sebatas itu saja
Karna ia berjanji, kami pemuda dan kami pejuang
Terus-terus, hingga targetnya sadar,”Oh, aku buang-buang waktu untuk hal buruk itu”
Bersama-sama mereka mengmaslahatkan dirinya untuk tuannya, bangsanya
Pemimpin, tokoh insinyur, ulama’, pengusaha hingga penulis
Semua didominasi pemuda,
Majukah ? tentu !!!
Maka dari itu persiapkan pemuda dari sekarang
Oleh : Nila Firdausi Nuzulah - IPPNU