Click Here For Free Blog Templates!!!
Blogaholic Designs

Pages

Kamis, 09 Oktober 2014

KAPAN START DAN FINISH-NYA KESABARAN ?




Saya pribadi sering mendengar kata yang namanya ‘SABAR’. Seberapa atau seperti apa orang yang dikatakan sabar itu. Atau karna penderitaan yang diperolehnya ? saya anggap itu tidak adil. Mengapa orang yang penderitaannya banyak dikatakan sabar. Orang yang beradapun juga bisa dikatakan sabar ! begitulah definisi sabar menurut sepengetahuan dan pengalaman saya.
Allah Swt tidak akan menguji seorang hambanya jika hambanya tersebut tidak kuasa menanganinya. Dalam contoh lain ini seperti kegiatan MOG yang diberikan sebelum masuk sekolahnya yang dituju. Dan sebenarnya kegiatan itu bukan untuk menyiksa peserta didik, melainkan menguji dan menumbuhkan mental baik secara fisik maupun psikologi terhadapnya. Percayakah anda, bahwa lebih dari itu yang Allah berikan terhadap kita yang dapat melalui cobaannya ? Allah mengangkat derajat hambanya tersebut !
Oke, dalam bahasa santainya, kita tidak dapat merasakan dampak dari derajat yang Allah berikan. Jangan salah faham ! bukan kedudukan dalam dunia yang dimaksudkan, melainkan kedudukan kita esok di akhirat. Bukan hanya itu. Saya membuktikan sendiri, Allah tidak selalu membuat seorang hambanya dalam cobaan terus dalam hidupnya. Allah hanya ingin melihat seberapa tangguhnya hambanya itu menghadapinya sebelum Dia memberi hal yang lebih, dalam arti surprise kepadanya. Jadi bukan asal-asalan Allah memberi cobaan tersebut, melainkan menunjukan jalan goresan terindah kepada hambanya tersebut.Sedikit cerita pribadi saya tolehkan dalam tulisan saya ini. Agar apa? Agar anda percaya bahwa Allah itu penyayang umatnya.
Suatu ketika saya duduk dibangku SMP. Saat itu saya diberikan fasilitas course bahasa inggris. Sebelumnya saya memang berminat mengikuti bimbingan belajar tersebut karna SMP saya adalah SBI. Setelah sekitar 1 tahun saya mengikuti bimbinga tersebut, rasa kasihan timbul dibenak saya. Bisa dikatakan kursus saya mahal dalam arti hanya satu pelajaran saja. Saya mulai berpikir untuk mengstop eles saya dan memilih eles ditempat yang lebih efisien. Niat tersebut urung saya lakukan, dan saya masih eles seperti biasa. Suatu hari setelah pulang eles saya merasa, “Kayagnya aku lama enggak bayar SPP ya?”. Setelah itu saya langsung geledah tas yang biasa saya pakai eles, saya takut jikalau ternyata saya telat membayar SPP dan menumpuk-numpuk sementara SPP saya lumayan mahal. Saya merasa bergetar setelah menemuai SPP saya nunggak 3 bulan dengan awal bulan saat itu. Saya bingung tidak karuan. Bagaimana saya menjelaskan kepada orantua, sementara saat itu orangtua saya sedang krisis uang. Saya jelaskan juga, bahwa keluarga saya adalah keluarga seorang buruh dan wirausaha kecilan yang kadang memiliki uang lebih untuk makan dan juga kadang uang yang sangat pas-pasan untuk makan. Kadang saya pernah merasa miris saat krisis dalam keluarga saya, ibu lari kesana kemari mencari hutangan karna saat itu ayah saya belum transfer uang dan sedang sulitnya. Saya kembali memutar otak, pikiran saya langsung pada ibu dan ayah, wajah beliau sang pekerja keras.
Dengan sergap, saya tutup pintu kamar dan saya pegang kartu SPP dengan tetesan air mata saya meresapinya. Didompet saya hanya ada uang 35.000,00 yang hanya cukup untuk membayar 1 bulan SPP. Kemudian ide menghutang pun teramandemen. Saya sms beberapa teman akrab saya untuk saya mintakan bantuannya. Teman pertama mau membantu tapi saya rasa dia agak membelit, bukan tidak mau. Lalu berlanjut keteman ke-2, saya agak malu karna memang yang satu ini adalah anak orang kaya, pintar, tapi agak tomboi, tapi dia juga sangat baik kepada saya. Secuil harapan melingkari wajah saya yang sebelumnya deras air mata. Setelah itu saya mengerjakan sholat maghrib dikamar,dengan rasa malu saya curahkan semuannya kepada Allah yang selalu mendengar cerita hambanya. “Ya Allah, sebenarnya diri ini tidak mau menghutang tapi apa daya hamba benar-benar tidak punya tambahan uang. Ya Allah, hamba mohon bantuanMu, berilah rizki kepada hamba, entah berasal dari mana, meski kini hamba bukan pekerja”. Kemudian sujudlah saya dan basahlah sajadah yang saya kenakan dengan air mata yang deras.
Keesokan harinya bibir ini seperti canggung menagih bantuan dari teman yang mau mengulurkan bantuannya kepada saya. Raut wajahnya santai, itu setiap hari. Dan dia juga tidak menyerahkan uang yang akan saya pinjam yang sebenarya saya akan memintanya hari itu. Akhirnya dorongan naluri saya mengatakan tidak akan meneruskan jalan ini. Akhirnya saya bayarkan uang SPP 2 bulan saja, 1 bulan uang dari orangtua 1 bulan dari uang saya pribadi, dan saya putuskan untuk meminta uang SPP berikutnya diakhir bulan agar orangtua juga tidak terbebani. Selang beberapa minggu, sekolah saya mengadakan study tour kelas 8. Namun satu kelas saya yang akan ikut hanya 1 anak dan dia adalah anak guru di sekolahn saya. Saya ingin ikut karna itu untuk menambah pengalaman. Lagipula biaya tersebut berasal dari uang tabungan yang dibayarkan bersama SPP sekolah, sehingga tidak mengeluarkan uang lagi cukup uang saku saja. Akhirnya satu kelas hanya 2 anak yang ikut. Saya dan teman saya yang pertama dulu saya mintai bantuan. Saya berangkat diberi uang saku yang saya rasa lebih dari cukup bagi saya, karna kebetulan saat itu ayah pas mengirimkan transferan uang dan ada rizki lebih dari usaha keluarga sehingga saat itu materil keluarga normal kembali malah lebih. Tetapi saya berpesan kepada ibu bahwa jika uangnya sisa akan saya kembalikan soalnya uang kiriman tersebut biasa ayah kirim untuk kebutuhan 1 bulan keluarga kami lagipula saya tidak suka berfoya-foya atau membeli sesuatu seperti oleh-oleh terlalu berlebihan (ayah saya bekerja sebagai buruh di luar negeri). Saat masuk bus yang akan saya kendarai untuk study tour, saya duduk bersebelahan dengan teman saya itu. Orangtuanya akhir-akhir ini dekat dengan saya dan kenal pula. Saya sering main dan kerja kelompok dirumahnya jadilah saya akrab dengan orantuannya, saya dengannya bisa dikatakan sahabat karna dia banyak membatu saya juga selama ini. Tiba-tiba dia mengeluarkan beberapa lembar uang 50.000,00-an dari sakunya. Dan mengatakan bahwa uang itu titipan dari ayah ibunya untuk saya sebagai uang saku. Saya kaget bukan kepalang. Mendapatkan uang sebanyak itu. Saya sempat menolak uang tersebut saat disodorkan kepadaku. Tapi dia tetap memaksa dengan alasan ‘pesan dari orangtuannya’. Dalam hati saya sangat bersyukur. Dan berulang-ulang mengucapkan terimakasih.
Inilah gambaran kecil yang pernah saya alami. Bukankah itu sebuah bukti bahwa Allah itu selalu membuat kejutan bagi hambanya yang mau bersabar. Jadi kapan itu start-nya sabar ? jawabnya adalah saat seorang tersebut mau berkorban baik perasaan, materil ataupun apa itu bentuknya dan berusaha mengubahnya dengan tindakanya sendiri, berdo’a dan juga selalu percaya bahwa pertolongan Allah selalu datang entah itu kapan.
Dan kapan finish-nya sabar ? yaitu disaat tangan dan tindakan kamu bergerak tanpa lelah  beruasaha mengubah apa itu cobaanmu dan berdo’a memasrahkan diri kepadanNya entah seketika atau beberapa jeda kemudian Allah menunjukan kuasannya menunjukanmu surprise-Nya dan engkau mensyukuri apa yang tlah engkau dapatkan darinya.
Subhanalloh, Maha Besar Allah

                                                                                                                                TULUNGAGUNG, 13/5/2012
                                                                                                Nila Firdausi Nuzulah (umur 14 tahun)

0 komentar:

Posting Komentar